JAKARTA – Korlantas Polri telah menyiapkan skenario matang untuk menghadapi tantangan arus balik Lebaran 2026, yang diprediksi akan membawa beban volume kendaraan lebih besar dibandingkan arus mudik.
Kakorlantas Polri, Irjen Pol. Drs. Agus Suryonugroho, menegaskan bahwa seluruh langkah strategis ini diambil sebagai bentuk “tugas kehormatan” untuk memastikan masyarakat kembali dengan selamat dan bahagia.
Prediksi Dua Gelombang Arus Balik
Berdasarkan data Korlantas, puncak arus balik diprediksi akan terbagi dalam dua gelombang utama. Gelombang pertama terjadi pada 23-24 Maret 2026, sementara gelombang kedua diperkirakan jatuh pada 28-29 Maret 2026. Sekitar 3,5 hingga 4 juta kendaraan diproyeksikan akan kembali menuju wilayah Jabodetabek.
Secara spesifik, volume kendaraan pada puncak arus balik diprediksi mencapai 285.000 unit, angka yang melampaui puncak arus mudik sebelumnya yang tercatat sebanyak 270.000 kendaraan.
Keputusan Berdasarkan Data Real-Time
Irjen Agus Suryonugroho menekankan bahwa Polri tidak lagi hanya mengandalkan prediksi kalender dalam mengeksekusi rekayasa lalu lintas. “Kita bekerja bukan karena prediksi, kita bekerja karena data,” tegasnya.
Dengan memanfaatkan teknologi radar Jasa Marga dan drone ETLE, Polri memantau jumlah kendaraan secara presisi melalui metode traffic counting.
Indikator utama yang digunakan adalah volume kendaraan di KM 414 (Gerbang Tol Kalikangkung). Jika jumlah kendaraan yang melintas mencapai 3.800 hingga 5.000 kendaraan—jauh di atas kapasitas rutin yang hanya 2.000-an—maka tindakan rekayasa seperti one-way nasional akan segera dieksekusi.
Rekayasa Lalu Lintas dan Jalur Fungsional
Strategi utama yang diterapkan meliputi:
• One-Way Nasional: Diberlakukan mulai dari KM 414 hingga KM 70 (Cikampek) setelah melalui proses clearance (pembersihan jalur) selama kurang lebih dua jam.
• One-Way Lokal: Dilakukan secara dinamis, seperti dari KM 560 hingga KM 414, untuk merespons bangkitan arus tinggi dari arah Jawa Timur, Solo, dan Yogyakarta.
• Optimalisasi Tol Fungsional: Untuk memecah kepadatan, beberapa ruas tol fungsional dioperasikan, termasuk Solo-Jogja, Probolinggo-Besuki hingga Paiton, Tol Bojini (Ciawi-Sukabumi), serta ruas Ambarawa-Ungaran.
• Pengurangan Beban Simpang Susun: Kendaraan non-bus dari arah Jawa Barat menuju Jakarta dialihkan melalui jalur Sadang untuk menghindari penumpukan (crossing) di KM 66 Cikampek.
Antisipasi Jalur Arteri dan Keselamatan Pemudik
Kakorlantas juga memberikan perhatian serius pada jalur arteri yang terdampak oleh kebijakan one-way di jalan tol. Titik-titik rawan seperti Gentong (Jawa Barat), Mengkreng (Jawa Timur), dan Gadog (Bogor) dipantau ketat oleh tim urai yang dipimpin langsung oleh para Kapolda dan Dirlantas. Kepadatan di jalur ini seringkali dipicu oleh arus silaturahmi lokal pada masa aglomerasi H+3 Lebaran.
Polri juga menyiagakan pos pengamanan dan pelayanan di jalur nasional untuk menjaga keselamatan pemudik, terutama pengguna sepeda motor. Masyarakat diimbau untuk aktif memantau informasi melalui aplikasi resmi seperti Si Polan, Travoy, dan NTMC agar dapat menghindari kemacetan.
Keberhasilan pengelolaan arus balik ini juga didukung oleh kebijakan pemerintah terkait Work From Anywhere (WFA) dan pembatasan operasional kendaraan sumbu tiga (SKB). Menutup keterangannya, Kakorlantas menyampaikan bahwa kehadiran petugas di lapangan adalah sebagai sahabat pemudik. “Senyum Polantas itulah marka utama,” ujarnya, merujuk pada komitmen Polri dalam mengawal tagline “Mudik Aman, Keluarga Bahagia”
















