Jakarta — Pakar Kebijakan Publik dari Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Prof. Andy Fefta Wijaya, menilai keberhasilan Operasi Ketupat 2026 merupakan buah dari sinergi aktor yang terintegrasi dalam ekosistem kebijakan modern. Pendekatan ini disebutnya sebagai Kolaborasi Governance Multi Helix (CGPMH).
“Kolaborasi ini mengintegrasikan aktor negara dan non-negara dalam suatu ekosistem kebijakan berbasis shared decision-making. Hal ini terbukti efektif merespons kompleksitas mobilitas mudik yang tidak bisa diselesaikan secara sektoral,” ujar Prof. Andy, Selasa (31/3/2026).
Menurut Prof. Andy, tantangan utama mudik selama ini adalah ego sektoral dan fragmentasi data. Namun, pada Operasi Ketupat 2026, Korlantas Polri di bawah kepemimpinan Irjen Pol. Agus Suryonugroho berhasil menunjukkan integrasi sistem dan pembagian peran yang jelas.
“Ini bukti bahwa pendekatan Multi Helix bukan hanya konseptual, tetapi aplikatif dan terbukti efektif di lapangan,” tambahnya. Hal ini diperkuat dengan data aplikasi IRSMS yang mencatat penurunan fatalitas korban meninggal dunia sebesar 30,41 persen atau berkurang 104 jiwa dibandingkan tahun sebelumnya.
Keberhasilan operasional ini juga didukung oleh penerapan rekayasa lalu lintas yang terukur seperti One Way Nasional dan penggunaan teknologi mutakhir, mulai dari ETLE Patrol Presisi hingga Command Center Mobile.
Prof. Andy menyimpulkan bahwa model tata kelola yang adaptif dan sistemik ini telah berhasil mewujudkan tagline “Mudik Aman, Keluarga Bahagia” yang dicanangkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Capaian nihil kecelakaan menonjol selama operasi menjadi indikator penting bahwa sinergi lintas sektor berbasis data adalah masa depan pengelolaan transportasi publik di Indonesia.

