JAKARTA – Media sosial dihebohkan oleh rekaman video yang memperlihatkan perselisihan sengit antara pemilik usaha Sintya Tailor, Ni Made Tiadnyani, dengan seorang pelanggan perempuan di kawasan Sibangkaja, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali. Perkelahian verbal yang berujung pada makian, ucapan bernada SARA, hingga dugaan pengancaman tersebut langsung memicu perhatian luas warganet setelah beredar luas di berbagai platform digital. Peristiwa ini bermula dari kekecewaan pelanggan yang merasa janji penyelesaian perbaikan pakaian tidak ditepati oleh pihak penyedia jasa.
Berdasarkan penelusuran fakta di lapangan, cekcok tersebut dipicu oleh keterlambatan pengerjaan tiga potong pakaian yang dititipkan sejak 30 Juni 2026 dan dijanjikan selesai pada keesokan harinya. Saat pelanggan mendatangi tempat usaha tersebut sesuai waktu yang dijanjikan, pakaian miliknya ternyata belum sempat dikerjakan akibat menumpuknya pesanan kebaya. Situasi lantas memanas ketika pelanggan meminta kembali pakaian beserta uangnya, namun ditolak oleh pihak penjahit, hingga memicu adu mulut hebat yang diwarnai lontaran kata-kata kasar dan ancaman.
Menanggapi video yang kadung viral dan menuai kecaman, Bu Sintya memberikan klarifikasi terbuka terkait insiden yang terjadi sekitar tiga pekan lalu tersebut. Ia mengaku emosinya tersulut secara spontan karena merasa dicaci maki saat sedang menikmati waktu makan sore. Sebagai perempuan paruh baya, ia merasa tidak dihormati oleh pelanggan yang berusia jauh lebih muda dan tidak bersabar saat diminta menunggu selama 15 menit. Ia pun mengaku terkejut dan terluka hatinya karena pertengkaran tersebut direkam secara diam-diam tanpa sepengetahuannya hingga berujung viral.
Di sisi lain, Bu Sintya secara terbuka mengakui adanya keterlambatan dalam penyelesaian pesanan serta penggunaan kata-kata kasar akibat lepas kendali. Meski demikian, ia membantah sejumlah tuduhan serius, termasuk klaim bahwa dirinya telah menyiram pelanggan dengan sisa makanan. Ia merinci bahwa total biaya servis untuk tiga kemeja pria dan satu kemeja wanita milik pelanggan tersebut berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 25.000 per potong. Perempuan yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia konveksi ini menyatakan bahwa dirinya sempat bertemu dengan kekasih pelanggan tersebut sesaat setelah kejadian dan keduanya telah saling bermaafan. Menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga, ia berjanji untuk lebih sabar, berhati-hati, dan menjaga profesionalisme dalam menjalankan usahanya ke depan.














